 Penerangan Kodam IX/Udayana Editing Kapten Inf Daroji 12 Pebruari 2010 Korem 163/wirasatya menggelar acara coffee morning , Kamis (12/2) kemarin di Ruang Komandan Korem. Acara yang dihadiri jajaran pimpinan media cetak maupun elektronik di Bali, nampak hadair pimpinan kelompok media Bali Post Bapak Satria Narada, Ketua PWI Bali Bagus Ngurah Raid dan pimpinan media massa lainnya di Bali. Ada pesan penting yang disampaikan Danrem 163/Wirasatya Kolonel Inf Yoedhi Swastanto,MBA kepada awak media massa di Bali saat acara tersebut, Danrem minta segenap wartawan senantiasa menumbuhkan dan membulatkan komitmen untuk membangun dan menegakkan pers yang Pancasilais. Komandan Korem 163/Wirasatya,mengatakan bahwa pers Pancasila itu adalah pers yang lebih mengedepankan substansi kearifan lokal dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seperti musyawarah mufakat, semangat kekeluargaan, gotong royong, persatuan dan kesatuan demi tegaknya NKRI. Menurut Kolonel Inf Yoedhi Swastanto MBA, pers memegang peran yang sangat strategis dan sentral demi mewujudkan kepentingan dan tujuan bersama, termasuk kepentingan TNI. Khusus bagi TNI, pers bisa menjembatani langkah-langkah, program-program dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh TNI untuk kepentingan masyarakat. Tanpa peran serta wartawan, apapun bagusnya program dan apapun yang telah kita lakukan tidak akan tersosialisasikan secara optimal kepada masyarakat, ujarnya. Danrem juga berharap kepada wartawan-wartawan di Bali agar senantiasa menyampaikan berita-berita secara proporsional dan mengacu pada Undang-Undang Pers dan Kode Etik Kewartawanan. Berita atau informasi yang disajikan harus bersifat objektif untuk kepentingan bersama alias tidak ada rekayasa-rekayasa. Saya percaya, rekan-rekan wartawan di Bali tidak akan membuat berita-berita rekayasa yang tidak memihak kepentingan bersama, katanya lagi. Pada acara coffe morning, Danrem 163/Wirasatya Kolonel InfYoedhi Swastanto juga menilai pentingnya komponen anak bangsa membudayakan semangat keterwakilan dalam proses demokrasi. Di era reformasi ini, ia melihat kecenderungan proses demokrasi itu berkembang kearah demokrasi dan mengacu kepada kebebasan individu dan sistem pengambilan keputusan mengacu kepada hasil jajak pendapat. Dari hitungan matematika, tiga lawan satu ya.... mesti menang tiga. Jadi, hasil demokrasi itu mengacu keterpilihan tadi. Siapa yang punya konstituen banyak, itulah yang terpilih. Tidak mewakili keterwakilan dari seluruh kelompok yang ada.
Kembali |