SEJARAH KODAM IX/UDAYANA

Kodam IX/Udayana, secara formal  baru terbentuk pada tanggal 27 Mei 1957, namun sesungguhnya peristiwa terbentuknya Kodam IX/Uda-yana tersebut tidak terlepas dari rangkaian Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia pada umumnya. Dimulai dari masa Revolusi, ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu  (15 Agustus 1945), maka di Indonesia terjadi “kekosongan kekuasaan”. Dalam situasi yang kritis itulah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Para pemuda yang tergabung dalam BKR dan Laskar rakyat ber-gerak merebut senjata dari tangan Jepang. Demikian pula terjadi di Nusa Tenggara, khususnya di Bali, BKR dibawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai pada tanggal 13-14 Desember menyerang tangsi-tangsi  Jepang.

Bulan Oktober 1945, kapal-kapal Belanda yang mengangkut tentara Sekutu berlabuh di Singaraja. Para pemuda  TKR dengan gagah berani menurunkan bendera Belanda di pelabuhan Buleleng. Peristiwa ini dikenal dengan “Insiden Bendera” Maret 1945 mendarat lagi kapal perang Belanda mengangkut Tentara NICA ”Brigade Merah”  di  Sanur. Dari sinilah Belanda bermaksud merembes ingin menguasai kembali Nusa Tenggara. Namun para pemuda bertekad mempertahankan kedaulatan Negara RI yang baru saja diproklamasikan. Di Bali segera dibentuk RESIMEN SUNDA KECIl, dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai, pertempuranpun meletus dimana-mana, di Nusa Tenggara dikenal dengan pertempuran Tanah Aron dan pertempuran Selong. Bahkan terjadi peristiwa yang sangat patriotic, sore hari di Marga, tanggal 20 Nopember 1946 Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur bersama-sama anak buahnya dalam perang Puputan. Sementara itu dari meja diplomasi telah ditandatangani pengakuan kedaulatan RI pada Konfrensi Meja Bundar di Den Haag (27 Desember 1949). Sesuai perjanjian tersebut maka pasukan Belanda harus ditarik dari Indonesia dan tanggung jawab keamanan harus diserahkan sepenuhnya  kepada  APRIS. Dalam rangka pemindahan tersebut, struktur organisasi wilayah Indonesia Timur di jadikan TENTARA dan TERITORIUM VII (TT-VI), yang diketuai oleh A.J Mokoginta, wilayahnya meliputi Sulawesi dan sekitarnya, Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara).

Usaha pembentukan tentara di wilayah Nusa Tenggara ternyata kurang lancar, rintangan tidak hanya datang dari pihak Belanda melain- kan juga  dikarenakan timbulnya kekacauan-kekacauan di Indonesia  Timur  seperti pemberontakan Andi Azis dan RMS pada awal tahun 1950. Dalam rangka menanggulangi kekacauan dan demi tegaknya kedaulatan RI, maka pemerintah mengirim pasukan untuk bertugas di wilayah Indonesia Timur dengan Kolonel  A.E Kawilarang sebagai Panglima TT-VI/IT (Indonesia Timur). Sejak saat itu tanggungjawab keamanan di Nusa Tenggara dipegang sepenuhnya oleh “KOMANDO PASUKAN SUNDA KECIL/TT-VI/IT”. Komando Pasukan inilah kemudian menjadi embrio dan kemudian terus berkembang mengikuti gerak langkah perkembangan TNI-AD menjadi  KODAM IX/UDAYANA.

Pada tanggal 27 Mei 1957 Resimen-resimen Infanteri yang berada di Indonesia Timur diadakan Reorganisasi dan dijadikan KODAM , pada hari itu pula Resimen Infanteri 26 TT-VI/Wirabuana disahkan menjadi “KOMANDO DAERAH MILITER NUSA TENGGARA WIRA-BHUANA, dengan Letkol Minggu sebagai pimpinannya. Sesuai penetapan Kasad No.01 tanggal 26 Nopember 1957 tentang pembagian Daerah Militer Indonesia atas 16 Kodam, maka mulai tanggal 24 Oktober 1959 KODAM NUSRA diteteapkan sebagai KODAM XVI/NUSRA/RAK- SABHUANA. Kodam ini diperkuat dengan 3 Yonif, yaitu Yonif 701 ROI-II pada tanggal 21-1-1959 di Mataram. Sedangkan wilayahnya dibagi  menjadi Sektor A (Bali) Sektor B (NTB) Sektor C (NTT).

Dengan Keputusan Kasad No. KPTS 481/5/1960 tanggal 3 Mei 1960 Bagde Kodam dari Raksabhuana  diganti menjadi UDAYANA.  Kodam XVI/Udayana mengalami perkemba-ngan sesuai dengan perkembangan RI  dengan integrasi Timor-Timur , maka  wilayah dan tanggung jawabnya diperluas dengan dibentuknya Korem 164/Wiradharma yang meliputi wilayah Propinsi Timor-Timur. Terhitung mulai tanggal 1 April 1985, berdasarkan Keputusan Kasad No. 131/II/1985 tanggal 12 Februari 1985 sebutan Kodam XVI/Udayana diubah menjadi KODAM IX/UDAYANA. Perubahan ini sesuai dengan reorganisasi TNI-AD  dari 17 Kodam menjadi 10 Kodam di seluruh Indonesia.  

Kodam IX/Udayana yang dibentuk secara formal tanggal 27 Mei 1957 adalah salah satu Komando Utama di wilayah Nusa Tenggara  yang membawahi 3 Komando Resort Militer (Korem yaitu Korem 161/Wira Sakti di Kupang, Korem 162/Wira Bhakti di Mataram dan Korem 163/Wira Satya di Denpasar. Letak  Kodam IX/Udayana sangat strategis, karena wilayah teritorialnya terdiri dari provinsi Bali, NTB dan NTT. Kodam IX/Udayana bagian dari TNI merupakan kompartemen strategis mengemban tugas pokok mengamankan kedaulatan Negara dan keutuhan wilayah NKRI dari berbagai bentuk ancaman dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam negeri seperti pemberontakan dan gerakan separatis. Dengan tugas pokok tersebut prajurit Kodam IX/Udayana harus mampu menjadi penangkal sekaligus dapat digerakkan setiap saat untuk menghancurkan seluruh kekuatan musuh serta memulihkan kondisi keamanan nasional.

Operasi penumpasan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, Ops Dwikora di Kalimantan Timur, Ops Sadar di Irian Jaya, Ops Penum- pasan pemberontakan G.30.S/PKI di Nusa Tenggara, pengamanan per- batasan Timor-Timur, Ops Seroja Ops Kikis, Ops pengamanan daerah rawan dan Ops pengamanan di Ambon dan Nangroe Aceh Darus- salam (NAD). Partisipasi Kodam IX/Udayana di bidang Non Militer diwujudkan da- lam bentuk kegiatan membantu meningkatkan taraf kehidupan rak- yat berupa peningkatan pembangunan sarana-sarana sosial ke- masyarakatan, baik material mau- pun spiritual, termasuk perto- longan bencana alam seperti tanah longsor, tsunami, banjir dan gempa bumi. Operasi Manunggal ABRI Masuk Desa (AMD) yang diubah menjadi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) saat ini telah dilaksanakan untuk yang ke-92 kalinya dengan lokasi tersebar di wilayah Kodam IX/Udayana. Sasarannya antara lain pembangunan jalan baru, pemba- ngunan balai pertemuan, pembu- atan jembatan, gorong-gorong, re- habilitasi rumah rakyat, pemba- ngunan tempat ibadah,  tempat pen- didikan dan prasarana ekonomi, pertanian, kesehatan dan periba- datan, selain itu juga di adakan penyuluhan dibidang hukum, Bela Negara, pembinaan mental dan Keluarga Berencana.